Setiap kali bulan Ramadan datang, ada satu topik yang hampir selalu jadi bahan obrolan di Indonesia, dari warung kopi sampai media sosial. Soal kenapa awal puasa antara NU dan Muhammadiyah bisa berbeda. Tahun 2026 pun sepertinya tak lepas dari hal yang sama. Ada yang mulai puasa tanggal 18 Februari 2026, ada pula yang menunggu sehari lagi, yakni 19 Februari 2026.
Perbedaan itu murni karena cara yang berbeda dalam menentukan kapan bulan Ramadan dimulai. Dua-duanya punya dasar yang kuat, baik secara ilmiah maupun berdasarkan hukum Islam.
Memahami Siklus Bulan dan Penampakan Hilal
| Perkembangan Fase Bulan |
Bulan mengelilingi Bumi dalam waktu rata-rata 29,53 hari sambil terus memantulkan cahaya Matahari. Akibatnya, dari Bumi kita melihat bentuk Bulan berubah-ubah secara bertahap. Mulai dari gelap total saat konjungsi (bulan baru), kemudian muncul sabit tipis, membesar sampai terjadi bulan purnama, lalu menyusut lagi hingga menjadi sabit tipis, hingga kembali gelap. Siklus ini berulang setiap sekitar 29,53 hari. Perubahan fase inilah yang menjadi dasar kalender Hijriah dan penampakan hilal sebagai tanda masuknya bulan baru.
Setelah memahami gerak dan fase Bulan tersebut, sekarang kita bisa lanjut ke cara menentukan awal Ramadan berdasarkan NU dan Muhammadiyah.
![]() |
| Penampakan hilal, bulan sabit pertama setelah bulan baru |
Jadi, tim rukyah akan mengamati langit di berbagai titik di Indonesia pada tanggal 29 Syaban. Kalau hilal berhasil dilihat, maka keesokan harinya adalah 1 Ramadan. Tapi jika tidak terlihat, entah karena bulan terlalu tipis atau tertutup awan, maka bulan Syaban disempurnakan menjadi 30 hari.
Dasar pandangan ini berasal dari sabda Nabi Muhammad: “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup awan, maka genapkanlah bulan menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
NU sebenarnya juga menggunakan hisab atau perhitungan astronomi, tetapi hanya sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu utama. Sekalipun hasil perhitungan menunjukkan posisi hilal sudah di atas ufuk, keputusan tetap menunggu bukti penglihatan langsung.
Selama belum ada keyakinan bahwa hilal terlihat, maka umat Islam dianggap masih berada di bulan Syaban. Dengan kata lain, NU menekankan kehati-hatian agar penetapan awal Ramadan benar-benar berdasarkan kepastian penglihatan, bukan perkiraan semata.
Muhammadiyah: Mengandalkan Ilmu dan Perhitungan
Sementara itu, Muhammadiyah menempuh jalan yang sedikit berbeda. Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni menentukan awal bulan berdasarkan perhitungan astronomi yang akurat.
Menurut Muhammadiyah, apabila hasil hisab menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam posisi hilal sudah berada di atas ufuk, maka malam itu sudah dianggap sebagai awal Ramadan, meskipun hilal belum bisa terlihat dengan mata telanjang.
Bagi Muhammadiyah, hisab adalah bentuk kemajuan ilmu pengetahuan yang sejalan dengan ajaran Islam. Tujuannya sama dengan rukyah: memastikan waktu ibadah dengan penuh keyakinan. Karena memakai sistem perhitungan yang sangat presisi, Muhammadiyah biasanya sudah bisa mengumumkan awal Ramadan jauh sebelum pemerintah melakukan sidang isbat.
Sumber Perbedaan: Antara Penglihatan dan Perhitungan
Nah, di sinilah letak perbedaannya. Kadang hasil hisab menunjukkan bahwa hilal sudah berada sedikit di atas ufuk, misalnya 0,5 derajat, tapi secara kasat mata belum mungkin terlihat. Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah menetapkan bahwa Ramadan sudah dimulai, sementara NU menunggu satu hari lagi karena belum ada laporan hilal terlihat.
Jadi, bukan karena salah satu mengabaikan syariat. Perbedaannya terletak pada cara memahami hadis. NU memahami perintah “berpuasalah karena melihat hilal” secara harfiah, yakni melihat secara langsung. Sedangkan Muhammadiyah memaknainya secara substantif, bahwa yang penting adalah memastikan datangnya bulan baru, dan itu bisa dibuktikan melalui ilmu hisab.
Peran Pemerintah dalam Menyatukan Keputusan
Di Indonesia, keputusan resmi awal Ramadan ditetapkan oleh pemerintah melalui Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam sidang ini, pemerintah mempertimbangkan dua sumber sekaligus: hasil rukyah dari berbagai daerah dan data hisab dari para ahli falak.
Pemerintah menggunakan kriteria MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni tinggi hilal minimal tiga derajat dengan jarak sudut antara matahari dan bulan (elongasi) minimal 6,4 derajat. Jika hilal memenuhi kriteria tersebut dan berhasil dilihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal Ramadan.
Karena pendekatan ini lebih dekat dengan metode NU, keputusan pemerintah biasanya sejalan dengan hasil rukyah. Namun, Muhammadiyah tetap memegang hasil hisabnya sendiri, dan hal itu diakui sebagai bentuk ijtihad yang sah.
Hikmah di Balik Perbedaan
Perbedaan penentuan awal puasa bukanlah hal baru dalam Islam. Sejak masa sahabat Nabi pun, rukyah di berbagai daerah sering kali menghasilkan tanggal yang berbeda. Hal itu wajar, karena Islam memang memberi ruang bagi ijtihad selama tujuannya untuk menegakkan ibadah dengan benar.
Baik NU maupun Muhammadiyah sama-sama ingin membantu umat agar beribadah dengan keyakinan dan ilmu. Bedanya hanya di metode: yang satu berpegang pada pengamatan langit, yang lain pada perhitungan ilmiah.
Oleh karena itu, perbedaan awal puasa seharusnya tidak membuat kita saling menyalahkan. Justru ini menunjukkan betapa dinamisnya khazanah Islam di Indonesia. Agama tidak menolak ilmu, dan ilmu tidak bertentangan dengan iman. Keduanya berjalan berdampingan, saling melengkapi, dan menegaskan bahwa perbedaan tidak selalu berarti perpecahan.
Jika ada yang mulai puasa lebih dulu atau belakangan, tidak perlu bingung, apalagi berdebat. Cukup jalankan sesuai keyakinan masing-masing. Tanggalnya boleh beda sehari, tapi tujuannya tetap sama: menyucikan diri, memperbanyak amal, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Komentar
Posting Komentar